Selasa, 03 Maret 2020

Pentalogi KKN - Minggu IV (End) :(


KKN#5 Minggu Terakhir


Minggu terakhir adalah minggu paling berkesan dalam kegiatan KKN kami, ya, minggu terakhir identik dengan kata "pulang".
Kata "pulang" seakan-akan menjadi sebuah power bank bagi kami yang telah kehabisan baterai semangat, kami sangat merindukan euforia keramaian makassar yang begitu "HOT", panas dalam artian sebenarnya. Meski kami sering menjelek-jelekkan makassar sebagai kota yang panas, kotor, macet dan sebagainya, toh saat kami jauh kami tetap merindukan makassar, rindu kamar sempit kami, rindu bantal penuh iler, rindu kamar berubin abu-abu, akibat resapan abu rokok pada lantai yang sebenarnya berwarna putih.
Memasuki hari pertama di minggu terakhir, kami sudah menyiapkan sebuah rencana, tentu kami tidak ingin pulang begitu saja nantinya, kami ingin meninggalkan kesan yang baik agar kami tetap di ingat oleh keluarga Kepala Desa dan masyarakat Desa Pattiroang, untuk itu kami berencana untuk mengadakan "Burn Burn Fish" atau lebih dikenal dengan bakar-bakar ikan.
Dipagi buta kami bersiap-siap menuju Tempat pelelangan ikan di daerah Kassi Kelurahan Tanah Jaya, untuk membeli ikan, Sekedar Info, Kordes Tanah Jaya seorang cewek yang cantik, tapi sayang kecantikannya pudar di mataku setelah belakangan saya tahu kalau dia sudah menikah, eh tapi bukan itu fokus permasalahannya.

tempat pelelangan ikan Kassi'
"You very lucky, today the fish is very cheap", begitulah kira-kira kata-kata yang diucapkan ibu-ibu paruh baya penjual ikan kepada Ibu Desa sambil menyodorkan sebaskom penuh ikan segar yang dihargai hanya Rp. 75.000, kata Ibu Desa biasanya harga ikan sebanyak itu mencapai Rp. 200.000-an, spontan saya berkata, "wooow, i'm very lucky guy, thanks so much king neptune", Ibu Desa tiba-tiba menjauh dan pura-pura tidak kenal dengan saya. Ahh bagian ini terlalu lebay.
Setelah Ikan yang dibeli cukup, dan perut sudah over dengan jajanan pasar dan uang patungan menipis,kami pulang untuk persiapan selanjutnya, ngomong-ngomong acara burn-burn fish ini disponsori oleh hasil patungan kami bertujuh grup boyband posko Desa Pattiroang, setelah melaui proses yang begitu alot dan tensi yang meninggi, akhirnya dana yang terkumpul mencukupi untuk acara ini, meski saya tau mereka tidak ada yang ikhlas mengeluarkan uang, persetan dengan mereka.
Setelah semua bahan siap, termasuk bumbu-bumbu dan sejenisnya yang dibeli Ibu Desa diperjalanan pulang tadi, akhirnya semua bahan siap, dan acara burn burn fish siap digelar.
Setelah semua undangan datang, kami berangkat menuju tempat yang telah direncanakan sebelumnya, yaitu pantai Karampuang, di daerah perbatasan Kajang dan Kab. Sinjai, pantai yang indah yang terletak di pinggiran jalan raya, tapi saya juga pusing, pantainya yang berada dipinggiran jalan raya atau jalan raya yang berada di pinggir pantai, terserahlah.
Setibanya, tikar pun digelar, ikan dibakar, ballo' dituang, dan kamera berserakan, ada yang selfie, ada yang groupie, ada yang bercanda riang, dan ada juga yang berenang di pantai. Semua terlihat bahagia, terutama teman-teman KKN saya, begitu riang, kegirangan dan nyaris lupa diri, bukan bahagia karena makan ikan, bukan karena pantainya, tapi karena sebentar lagi pulang. Dasar bedebah.
Setelah acara bakar-bakar ikan usai, yang tersisa adalah keceriaan dan letih, kami semua pulang dengan tenang dan damai.
Kemudian setelah acara itu, hari-hari menjelang waktu kepulangan kami berlalu biasa saja, kebanyakan dihabiskan untuk bermalas-malasan di posko.
-------------------------------
Setelah beberapa hari berlalu, tibalah hari H, kepulangan kami. 
Seperti cerita-cerita senior kami dulu, saat hari terakhir pasti di isi dengan tangisan, sebenarnya saya juga ingin menangis tapi entah kenapa saya merasa biasa saja saat itu, sedih sih tapi tidak sedih-sedih sekali.
Kemudian si fauzan memimpin untuk memulai bersalam dengan Tuan rumah dan beberapa warga yang datang, tiba-tiba Fauzan teriak histeris, menangis sambil memeluk Ibu Desa, saya kaget sekaligus tidak bisa menahan tawa, akhirnya dengan sekuat tenaga saya tidak tertawa dan ikut larut dalam suasana sedih tersebut.
Sebelum mobil berangkat ke kantor Kecamatan, kami menyempatkan untuk berfoto bersama Ibu dan Bapak Desa berserta beberapa warga yang datang menyaksikan kepulangan kami. 
Pak Jamal sekertaris desa, Ulla dan Edho keluarga Pak Kepala Desa ikut mengantar kami ke kantor Kecamatan tempat dimana titik kumpul semua mahasiswa yang akan dijemput oleh bus kampus. 
Dan akhirnya, sebelum bus berangkat, sekali lagi kami bersalaman dengan pak Jamal, Ulla dan Edho, sambil tersenyum pak Jamal berucap, "Nanti jalan-jalan lagi kerumah" Kami serentak menjawab, "iya Pak, Insya Allah".
Kemudian, bus pun melaju perlahan meninggalkan daerah Kajang....
Tidak terasa saya menitikkan air mata, entah kenapa saya merasa berat meninggalkan desan ini.
Desa Pattiroang, terlalu indah untuk ditinggalkan, terlalu hangat untuk di lepaskan dan terlalu ramah untuk diabaikan. 
Rasa terima kasih tidak akan cukup untuk Desa Pattiroang untuk itu saya berjanji akan kembali lagi ke Desa ini suatu hari kelak.
Sekian

0 komentar :