Kabupaten Sinjai dan Kabupaten Bone berjarak sekitar 78 kilometer jauhnya, begitu pula kisah cinta tragis yang sedang saya perankan dengan seorang wanita anak orang dari seberang laut nun jauh disana, pun dibatasi jarak 78 kilometer.
--------------------
Setiap
liburan kuliah, saya pasti segera pulang kampung ke kabupaten Sinjai, selain
untuk melepas rindu dengan orang tua dan sanak keluarga, ada seseorang yang
jauh disana yang tengah menantiku dengan senyuman manisnya. Dia adalah wanitaku
yang sedang menuntut ilmu di kampung sebrang di kabupaten Bone.
Saat
liburan di kampung halaman, setiap akhir pekan saya pasti menuju kabupaten Bone
untuk menemui kekasihku, maklum hanya bisa bertemu lama di akhir pekan karena
dia juga sibuk kuliah di hari lain.
Setiap
akhir pekan saya berkendara dengan sepeda motor kesayangan melewati ratusan bahkan
ribuan manusia dipinggiran jalan raya yang sedang sibuk dengan urusannya
masing-masing. Ada penjual roti keliling yang membunyikan terompet, mahasiswi-mahasiswi Sekolah Tinggi Ilmu Agama
Kabupaten Bone yang sedang asyik ber-selfie-ria di halte bis, Ibu-ibu yang
antri berobat di Puskesmas Salomeko, Anak kecil yang bermain bola di sawah
kering bekas panen padi.
![]() |
| tidak kayak gini juga saya... |
Untuk mengurangi
kebosanan ketika diperjalanan saya memutar musik dari smartphone lalu memasang
headset di dalam helm, setiap hendak memakai headset saat ingin bepergian saya
selalu teringat pesan pak Polisi waktu saya ditilang dulu, “Dek, kalo berkendara
jangan pake headset, ntar bahaya bagi keselamatan adek”, ciee pak Polisinya
perhatian cieeee.
Di perjalanan ketika saya dilanda bosan dan ngantuk berlebih,
terkadang saya ikut bernyanyi dengan suara keras, apalagi ketika berada di
daerah hutan yang sepi dan tidak ada pengendara lain yang lalu lalang,
kesempatan deh buat puas-puasin nyanyi sambil teriak, fals fals aja deeh, Iwan Fals
aja bisa jadi penyanyi terkenal padahal dari namanya saja sudah Fals. Ngomong-ngomong Lagu
Bartender yang dinyanyikan Lady Antebellum adalah favoritku.
Biasanya
saya berangkat dari rumah (Kabupaten Sinjai) sekitar pukul sembilanan pagi,
perjalanan menuju Kabupaten Bone butuh waktu sekitar 2 jam lebih *karena motor
saya matic, coba motor ninja mungkin hanya satu jam-an, apalagi kalo pake mobil,,
beeehh* Jadi sampai disana itu kurang jam duabelasan atau menjelang sholat
Dhuhur lah.
Yah
kawan, persetan dengan rasa bosan, rasa letih dan rasa ngantuk yang kurasakan
sepanjang perjalanan jika sudah bertemu dengan Aisyahku. Saya seperti terbang
kelangit ketujuh kemudian tersesat dan tak tau arah jalan pulang, gleepp.
Itulah cinta kawan mengalahkan segala rasa, rasa cinta adalah rasa diatas
segala rasa. Cinta membuat buta, cinta membuat yang tidak logis menjadi masuk
akal, cinta menjadikan kita berani melawan dunia, cinta menjadikan kita tidak
rasional dan bahkan cinta ini bisa membunuhku kata D’masiv.
Rindu
yang telah begitu lama merengeki tubuhku segera luntur dan hilang diganti
dengan rasa bahagia bertemu dengan sang kekasih yang terpisah begitu lama
karena jarak. Jika selama ini hanya bisa mendengar suara melalui telepon atau
membaca jejak tangannya di kotak masuk hpku kini saya bisa menatap bening
wajahnya sepuas hati, mengelus pipi tembemnya yang putih mulus, mencium wangi
rambutnya yang semerbak dan menceritakan lelucon yang membuatnya
terbahak-bahak. Ahhh indahnya.
![]() |
| wajah setelah 2 jam naik motor matic |
Setelah
shalat Ashar *yang dijamak dengan shalat dhuhur yang terlupakan tadi* saya
bersiap untuk pulang, I hate sad ending.
Saat hendak pulang pasti pacar saya
menitikkan air mata, dia memang cewek yang agak cengeng, saya hanya bisa
menertawainya sambil mengejek tingkah cengengnya meski hati saya juga sangat
sakit rasanya. Dia melepasku pulang dengan lambaian tangannya yang begitu
lemah.
Mungkin
dia menangis karena pekan depan saya tidak akan datang lagi karena liburan
sudah habis dan saya harus balik ke Makassar. Dia pasti sangat meridukanku. Ahh…
sakitnya tuh di sanubari. Maafkan aku sayang, untuk sementara bertahanlah
dengan keadaan ini.
Setelah
saling dadah-dadah-an saya pun pulang dengan hati yang agak kurang sehat.
Perjalan semakin terasa berat dan panjang untuk dilalui. Sabar, sabar.
-------------------
Berkendara
sepeda motor sejauh 78 kilometer itu melelahkan, tapi saya merasa jauh lebih
lelah bila harus terus memikul rindu yang menumpuk ini. Memang berat menjalani
hubungan jarak jauh, harus bisa merevolusi hati agar kuat menahan terjangan
rindu yang berombak dan berbuih.
Terima kasih,
Wassalam.



0 komentar :
Posting Komentar