Selasa, 03 Maret 2020

Tumpukan Rindu di 78 Km







Kabupaten Sinjai dan Kabupaten Bone berjarak sekitar 78 kilometer jauhnya, begitu pula kisah cinta tragis yang sedang saya perankan dengan seorang wanita anak orang dari seberang laut nun jauh disana, pun dibatasi jarak 78 kilometer.

--------------------

Setiap liburan kuliah, saya pasti segera pulang kampung ke kabupaten Sinjai, selain untuk melepas rindu dengan orang tua dan sanak keluarga, ada seseorang yang jauh disana yang tengah menantiku dengan senyuman manisnya. Dia adalah wanitaku yang sedang menuntut ilmu di kampung sebrang di kabupaten Bone.


Saat liburan di kampung halaman, setiap akhir pekan saya pasti menuju kabupaten Bone untuk menemui kekasihku, maklum hanya bisa bertemu lama di akhir pekan karena dia juga sibuk kuliah di hari lain.

Setiap akhir pekan saya berkendara dengan sepeda motor kesayangan melewati ratusan bahkan ribuan manusia dipinggiran jalan raya yang sedang sibuk dengan urusannya masing-masing. Ada penjual roti keliling yang membunyikan terompet,  mahasiswi-mahasiswi Sekolah Tinggi Ilmu Agama Kabupaten Bone yang sedang asyik ber-selfie-ria di halte bis, Ibu-ibu yang antri berobat di Puskesmas Salomeko, Anak kecil yang bermain bola di sawah kering bekas panen padi.

tidak kayak gini juga saya...
Begitu juga khayalan yang lalu lalang di otakku, dari hal-hal yang masih masuk akal, hal-hal berbau mesum, sesuatu yang absurd dan lain sebagainya. 
Untuk mengurangi kebosanan ketika diperjalanan saya memutar musik dari smartphone lalu memasang headset di dalam helm, setiap hendak memakai headset saat ingin bepergian saya selalu teringat pesan pak Polisi waktu saya ditilang dulu, “Dek, kalo berkendara jangan pake headset, ntar bahaya bagi keselamatan adek”, ciee pak Polisinya perhatian cieeee. 
Di perjalanan ketika saya dilanda bosan dan ngantuk berlebih, terkadang saya ikut bernyanyi dengan suara keras, apalagi ketika berada di daerah hutan yang sepi dan tidak ada pengendara lain yang lalu lalang, kesempatan deh buat puas-puasin nyanyi sambil teriak, fals fals aja deeh, Iwan Fals aja bisa jadi penyanyi terkenal padahal dari namanya saja sudah Fals. Ngomong-ngomong Lagu Bartender yang dinyanyikan Lady Antebellum adalah favoritku.

Biasanya saya berangkat dari rumah (Kabupaten Sinjai) sekitar pukul sembilanan pagi, perjalanan menuju Kabupaten Bone butuh waktu sekitar 2 jam lebih *karena motor saya matic, coba motor ninja mungkin hanya satu jam-an, apalagi kalo pake mobil,, beeehh* Jadi sampai disana itu kurang jam duabelasan atau menjelang sholat Dhuhur lah.

Yah kawan, persetan dengan rasa bosan, rasa letih dan rasa ngantuk yang kurasakan sepanjang perjalanan jika sudah bertemu dengan Aisyahku. Saya seperti terbang kelangit ketujuh kemudian tersesat dan tak tau arah jalan pulang, gleepp. Itulah cinta kawan mengalahkan segala rasa, rasa cinta adalah rasa diatas segala rasa. Cinta membuat buta, cinta membuat yang tidak logis menjadi masuk akal, cinta menjadikan kita berani melawan dunia, cinta menjadikan kita tidak rasional dan bahkan cinta ini bisa membunuhku kata D’masiv.

Rindu yang telah begitu lama merengeki tubuhku segera luntur dan hilang diganti dengan rasa bahagia bertemu dengan sang kekasih yang terpisah begitu lama karena jarak. Jika selama ini hanya bisa mendengar suara melalui telepon atau membaca jejak tangannya di kotak masuk hpku kini saya bisa menatap bening wajahnya sepuas hati, mengelus pipi tembemnya yang putih mulus, mencium wangi rambutnya yang semerbak dan menceritakan lelucon yang membuatnya terbahak-bahak. Ahhh indahnya.
wajah setelah 2 jam naik motor matic
Tapi entah mengapa waktu begitu sirik akan kebahagiaan kami, rasanya baru empat menit kami bercengkrama, ternyata sudah lebih dari empat jam kami lalui. Sepertinya cinta telah menghentikan ruang dan waktu disekeliling kami. Ah saya lebay.
Setelah shalat Ashar *yang dijamak dengan shalat dhuhur yang terlupakan tadi* saya bersiap untuk pulang, I hate sad ending
Saat hendak pulang pasti pacar saya menitikkan air mata, dia memang cewek yang agak cengeng, saya hanya bisa menertawainya sambil mengejek tingkah cengengnya meski hati saya juga sangat sakit rasanya. Dia melepasku pulang dengan lambaian tangannya yang begitu lemah.
Mungkin dia menangis karena pekan depan saya tidak akan datang lagi karena liburan sudah habis dan saya harus balik ke Makassar. Dia pasti sangat meridukanku. Ahh… sakitnya tuh di sanubari. Maafkan aku sayang, untuk sementara bertahanlah dengan keadaan ini.
Setelah saling dadah-dadah-an saya pun pulang dengan hati yang agak kurang sehat. Perjalan semakin terasa berat dan panjang untuk dilalui. Sabar, sabar.

-------------------

Berkendara sepeda motor sejauh 78 kilometer itu melelahkan, tapi saya merasa jauh lebih lelah bila harus terus memikul rindu yang menumpuk ini. Memang berat menjalani hubungan jarak jauh, harus bisa merevolusi hati agar kuat menahan terjangan rindu yang berombak dan berbuih.

Terima kasih,

Wassalam.

0 komentar :