KKN #3 (Minggu Kedua)
Selain makan dan tidur, setidaknya ada dua hal produktif yang kami
lakukan di minggu kedua ini. Tentu kami juga tidak ingin mempermalukan
diri sendiri, secara kami andalah kaum intelek yang berada
ditengah-tengah masyarakat yang bisa dibilang, kurang mengenyam tikar dunia pendidikan.
Kami tidak ingin di cap sebagai generasi penerus bangsa yang kerjanya
hanya bermalas-malasan dan hanya datang untuk merepotkan sang empunya
rumah, Pak Kepada Desa dan keluarga. Kami adalah kaum muda yang berilmu
dan beramal, kami harus menunjukkan pada orang-orang di desa ini kalau
kami ini bisa berbuah banyak dengan segala talenta yang kami miliki,
dengan segala optimisme dan semangat juang pantang menyerah dan
berapi-api. Kesombongan di masa muda yang indah, kata Sheila On Seven.
Setidaknya ada dua "kerja nyata" yang kami lakukan sebagai bentuk
tanggung jawab kami terhadap hak-hak masyarakat di tempat kami ber-KKN.
Pertama
Kami mengadakan kegiatan seminar perkenalan di kantor Desa Pattiroang.
Pada kesempatan ini kami memperkenalkan diri berikut program kerja yang
akan kami kerjakan selama kami ber-KKN di desa ini.
--------------------
Pada selasa subuh yang masih gelap gulita, saya dibangunkan oleh bu De',
sudah menjadi rutinitas saya setiap hari senin, rabu, dan jumat, saya
mengantar bu' De ke pasar untuk berjualan, kebetulan bu' De kami adalah
seorang penjual pakaian, segala macam pakaian dari celana, baju, sarung,
gamis dan lain-lain dia jual di pasar. Biasanya setiap selesai shalat
subuh saya mengantar bu' De ke pasar, lalu pulang kembali ke posko
melanjutkan tidur. Biasanya bu De' selesai menjual pukul sepuluh, jadi
sebelum pukul sepuluh saya sudah harus ada lagi di pasar, memanggul
bal-bal pakaian jualan bu' De.
Sekira pukul sembilanan, bu' De tiba-tiba muncul dengan kue yang begitu
banyak dari bu' De. Ternyata dia sengaja pulang lebih awal karena
mempersiapkan komsumsi untuk acara seminar kami.
Bu' De memperingatkan kami, "bukankah hari ini kalian akan seminar anak-anak, kenapa belum ada yang bergegas?".
"Ah, anak-anak memang begitu, sudah tau hari ini kita seminar, masih
saja bangunnya kesiangan, niat KKN atau tidak sih". Saya menggerutu
dalam hati.
Setelah tumpang tindih, tendang-menenengang, tarik-menarik, ngomel kiri
kanan, akhirnya kami semua sudah mode segar dan rapi dan bersiap untuk
acara seminar. Dengan mengenakan alamater (kurang) suci UMI, kami
berangkat menuju kantor desa menggunakan mobil carry futura, mobil
pengangkut barang jualan bu' De. Berhubung jarak rumah pak De dengan
infrakstruktur umum seperti Sekolah, Masjid, Puskesmas dan kantor Desa
yang berjauhan, ditambah medan yang naik turun (seperti bodi jupe'),
maka kami harus naik mobil, kebetulan pak De punya dua mobil, selamatlah
kami.
Sekitar pukul sebelas, para undangan yang terdiri dari staf-staff Desa,
ketua RT, Tokoh Adat, dan Tokoh Agama sudah berdatangan, orang-orang di
desa memang on time, bandingkan dengan orang-orang modern sekarang ini.
Ah, sudahlah. Ada sekitar 20-an orang yang hadir, sesuai dengan jumlah
undangan yang disebar Fauzan kemarin sore.
Setelah Bapak Kepala Desa datang akhirnya seminar dimulai, Fauzan
bertindak sebagai moderator, duduk berdampingan saya selaku korde,
kemudian pak De dan Bapak sekertaris Desa. Seminar pun kami mulai dengan
perkenalan diri dan visi misi selama kami ber-KKN disini.
Kami bersilaturahmi ke beberapa rumah tokoh adat dan tokoh agama yang
ada di Desa pattiroang. Selain itu kami juga menghadiri beberapa acara
adat yang dilangsungkan di Desa ini, salah satunya acara pernikahan
adat.
-------------------
Pada Jumat malam saya dan teman-teman KKN bersama Keluarga Besar Kepala
Desa Pattiroang menghadiri acara Pernikahan adat salah satu kerabat
Kepala Desa Pattiroang. Sekitar 15 menit kami tiba di rumah mempelai,
terlihat sudah sangat ramai orang-orang yang datang, awalnya sempat
takut juga melihat kondisi rumah panggung yang sudah cukup tua, melihat
begitu banyak orang yang lalu lalang diatasnya, takutnya rumah tersebut
rubuh. Tapi sudah terlanjur datan, ya saya dan teman-teman langsung naik
saja.
Tidak seperti pernikahan di desa-desa pada umumnya, biasanya pernikahan
di desa itu menghadirkan elekton dengan biduan-biduan berbikini atau
bahkan "candoleng-doleng", pernikahan yang kami datangi ini betul-betul
nuansa adatnya sangat kental. Bahkan acara hiburannya pun di isi oleh
sekelompok pemain perkusi, kecapi dan gendang tradisional khas kecmatan
Kajang.
Saat berada di dalam rumah, terlihat para tokoh adat dan tokoh
pemerintahan sudah duduk berjajar rapi, posisi duduknya pun ternyata
ditententukan dengan jabatan masing-masing. Kami pun dipersilahkan duduk
oleh sang empunya rumah, dan acara dimulai.
Pertama yang saya lihat adalah seorang pria berpakaian hitam-hitam
membawa sebuah lilin tradisional yang ditancapkan ke batang pohon
pisang, kemudian mendatangi satu persatu pemangku adat dan pemerintah
setempat, kemudian memberi sebuah bungkusan lalu memanjatkan doa-doa.
Saya juga tidak tahu apa namanya, saya hanya memperhatikan yang mereka
lakukan.
![]() |
| gendang tradisional |
![]() |
| para tetua kampung |
Setelah itu acara kedua adalah acara yang sebenarnya saya agak kurang
suka, karena itu di larang oleh agama. Yah, meski dilarang agama itu
tetap dilakukan karena merupakan bagian dari adat. Memang banyak sih
kejadian sepertiini, yang sebenarnya di dalam kitab suci Al Qur'an sudah
dijelaskan secara rinci tentang larangan-larangan bagi manusia, tetapi
karena adat, hal tersebut tetap dilakukan dan menjadi kebiasaan.
Beberapa Ibu-ibu kemudian membawa mangkuk putih mirip mangkuk-mangkuk
cina seperti di film-film, menyimpan satu-persatu dihadapan kami,
kemudian di ikuti oleh keluarga tuan rumah yang membawa sebuah benda
seperti gerabah besar yang ternyata isinya adalah tuak. Berhubung karena
tuak termasuk jenis khamar dan memabukkan serta dilarang oleh ajaran
agama Islam maka saya tidak ikut minu, hanya beberapa teman saya, Rama
dan Uppy yang minum bersama para tetua dan hadirin di acara tersebut.
![]() |
| tuak dalam mangkuk |
![]() |
| tuak segentong |
![]() |
| rama minum tuak |
Setelah acara minum-minum, wajah Uppy mulai memerah karena terlalu
banyak minum tuak, saya hanya tertawa melihat tingkahnya yang sudah
mulai aneh.
Ternyata acara yang kami tunggu-tunggu ada di urutan ketiga, iyah, acara
makan-makan. Setelah acara "minuman pembuka", Ibu-ibu gesit dan
pengertian itu pun muncul kembali dengan baki besar membawa makanan
porsi besar.
Kami sebenarnya agak kecewa ketika makanan super lezat dengan porsi
jumbo ini muncul, karena sebelum berangkat ke acara kawinan ini kami
semua sudah makan malam di posko, jadi kami datang ke kondangan dengan
mode kenyang. Sebenarnya jika kami tau akan ke acara seperti in kami
bakalan tahan lapar dari siang tapi karena memang kebetulan Ibu Desa
mengajak kami pas malam hari jadi kami tidak ada persiapan (mengosongkan
perut). Jadi sia-sia deh makanan seonggok besar tersebut. Sayang
sekali.
![]() |
| ini untuk satu orang |
![]() |
| makan besar |
![]() |
| muka-muka menyesal, terutama kk' allu |
Setelah mencicipi sedikit makanan, kami kekenyangang berat, kami mulai
tidak betah duduk berlama-lama terlebih si uppy yang sudah mulai bermuka
aneh. Kami akhirnya berpamitan dengan Pak De dan tuan rumah untuk
pulang duluan, kami menjadikan uppy yang sedang mabuk berat sebagai
alasan kami untuk pulang cepat. Kami tidak sempat mengikuti acara
selanjutnya, sebenarnya agak tidak enak juga sih, tapi kami juga sudah
tidak tahan duduk dengan perut kembung.
Terima kasih tuan rumah, terima kasih pengantin, terima kasih Ibu-ibu
yang memasak makanan yang sungguh nikmat, terima kasih bagi yang
menyediakan tuak dan membuat teman saya mabuk kepayang, terima kasih
warga Desa Pattiroang.
![]() |
| mempelai pria |
![]() |
| mempelai pria juga |
Sekian,
Wassalam














0 komentar :
Posting Komentar