Selasa, 28 Maret 2017

Pentalogi KKN - Minggu II




KKN #3 (Minggu Kedua)


Selain makan dan tidur, setidaknya ada dua hal produktif yang kami lakukan di minggu kedua ini. Tentu kami juga tidak ingin mempermalukan diri sendiri, secara kami andalah kaum intelek yang berada ditengah-tengah masyarakat yang bisa dibilang, kurang mengenyam tikar dunia pendidikan. 
Kami tidak ingin di cap sebagai generasi penerus bangsa yang kerjanya hanya bermalas-malasan dan hanya datang untuk merepotkan sang empunya rumah, Pak Kepada Desa dan keluarga. Kami adalah kaum muda yang berilmu dan beramal, kami harus menunjukkan pada orang-orang di desa ini kalau kami ini bisa berbuah banyak dengan segala talenta yang kami miliki, dengan segala optimisme dan semangat juang pantang menyerah dan berapi-api. Kesombongan di masa muda yang indah, kata Sheila On Seven.
Setidaknya ada dua "kerja nyata" yang kami lakukan sebagai bentuk tanggung jawab kami terhadap hak-hak masyarakat di tempat kami ber-KKN.
Pertama
Kami mengadakan kegiatan seminar perkenalan di kantor Desa Pattiroang. Pada kesempatan ini kami memperkenalkan diri berikut program kerja yang akan kami kerjakan selama kami ber-KKN di desa ini.

--------------------
Pada selasa subuh yang masih gelap gulita, saya dibangunkan oleh bu De', sudah menjadi rutinitas saya setiap hari senin, rabu, dan jumat, saya mengantar bu' De ke pasar untuk berjualan, kebetulan bu' De kami adalah seorang penjual pakaian, segala macam pakaian dari celana, baju, sarung, gamis dan lain-lain dia jual di pasar. Biasanya setiap selesai shalat subuh saya mengantar bu' De ke pasar, lalu pulang kembali ke posko melanjutkan tidur. Biasanya bu De' selesai menjual pukul sepuluh, jadi sebelum pukul sepuluh saya sudah harus ada lagi di pasar, memanggul bal-bal pakaian jualan bu' De.
Sekira pukul sembilanan, bu' De tiba-tiba muncul dengan kue yang begitu banyak dari bu' De. Ternyata dia sengaja pulang lebih awal karena mempersiapkan komsumsi untuk acara seminar kami.
Bu' De memperingatkan kami, "bukankah hari ini kalian akan seminar anak-anak, kenapa belum ada yang bergegas?".
"Ah, anak-anak memang begitu, sudah tau hari ini kita seminar, masih saja bangunnya kesiangan, niat KKN atau tidak sih". Saya menggerutu dalam hati.
Setelah tumpang tindih, tendang-menenengang, tarik-menarik, ngomel kiri kanan, akhirnya kami semua sudah mode segar dan rapi dan bersiap untuk acara seminar. Dengan mengenakan alamater (kurang) suci UMI, kami berangkat menuju kantor desa menggunakan mobil carry futura, mobil pengangkut barang jualan bu' De. Berhubung jarak rumah pak De dengan infrakstruktur umum seperti Sekolah, Masjid, Puskesmas dan kantor Desa yang berjauhan, ditambah medan yang naik turun (seperti bodi jupe'), maka kami harus naik mobil, kebetulan pak De punya dua mobil, selamatlah kami.
Sekitar pukul sebelas, para undangan yang terdiri dari staf-staff Desa, ketua RT, Tokoh Adat, dan Tokoh Agama sudah berdatangan, orang-orang di desa memang on time, bandingkan dengan orang-orang modern sekarang ini. Ah, sudahlah. Ada sekitar 20-an orang yang hadir, sesuai dengan jumlah undangan yang disebar Fauzan kemarin sore.
Setelah Bapak Kepala Desa datang akhirnya seminar dimulai, Fauzan bertindak sebagai moderator, duduk berdampingan saya selaku korde, kemudian pak De dan Bapak sekertaris Desa. Seminar pun kami mulai dengan perkenalan diri dan visi misi selama kami ber-KKN disini.
seminar desa

tokoh adat

fotonya kok gelap

Kedua 
Kami bersilaturahmi ke beberapa rumah tokoh adat dan tokoh agama yang ada di Desa pattiroang. Selain itu kami juga menghadiri beberapa acara adat yang dilangsungkan di Desa ini, salah satunya acara pernikahan adat.
-------------------
Pada Jumat malam saya dan teman-teman KKN bersama Keluarga Besar Kepala Desa Pattiroang menghadiri acara Pernikahan adat salah satu kerabat Kepala Desa Pattiroang. Sekitar 15 menit kami tiba di rumah mempelai, terlihat sudah sangat ramai orang-orang yang datang, awalnya sempat takut juga melihat kondisi rumah panggung yang sudah cukup tua, melihat begitu banyak orang yang lalu lalang diatasnya, takutnya rumah tersebut rubuh. Tapi sudah terlanjur datan, ya saya dan teman-teman langsung naik saja.
Tidak seperti pernikahan di desa-desa pada umumnya, biasanya pernikahan di desa itu menghadirkan elekton dengan biduan-biduan berbikini atau bahkan "candoleng-doleng", pernikahan yang kami datangi ini betul-betul nuansa adatnya sangat kental. Bahkan acara hiburannya pun di isi oleh sekelompok pemain perkusi, kecapi dan gendang tradisional khas kecmatan Kajang.
Saat berada di dalam rumah, terlihat para tokoh adat dan tokoh pemerintahan sudah duduk berjajar rapi, posisi duduknya pun ternyata ditententukan dengan jabatan masing-masing. Kami pun dipersilahkan duduk oleh sang empunya rumah, dan acara dimulai.
Pertama yang saya lihat adalah seorang pria berpakaian hitam-hitam membawa sebuah lilin tradisional yang ditancapkan ke batang pohon pisang, kemudian mendatangi satu persatu pemangku adat dan pemerintah setempat,  kemudian memberi sebuah bungkusan lalu memanjatkan doa-doa. Saya juga tidak tahu apa namanya, saya hanya memperhatikan yang mereka lakukan.
gendang tradisional

para tetua kampung
Setelah itu acara kedua adalah acara yang sebenarnya saya agak kurang suka, karena itu di larang oleh agama. Yah, meski dilarang agama itu tetap dilakukan karena merupakan bagian dari adat. Memang banyak sih kejadian sepertiini, yang sebenarnya di dalam kitab suci Al Qur'an sudah dijelaskan secara rinci tentang larangan-larangan bagi manusia, tetapi karena adat, hal tersebut tetap dilakukan dan menjadi kebiasaan.
Beberapa Ibu-ibu kemudian membawa mangkuk putih mirip mangkuk-mangkuk cina seperti di film-film, menyimpan satu-persatu dihadapan kami, kemudian di ikuti oleh keluarga tuan rumah yang membawa sebuah benda seperti gerabah besar yang ternyata isinya adalah tuak. Berhubung karena tuak termasuk jenis khamar dan memabukkan serta dilarang oleh ajaran agama Islam maka saya tidak ikut minu, hanya beberapa teman saya, Rama dan Uppy yang minum bersama para tetua dan hadirin di acara tersebut.
tuak dalam mangkuk

tuak segentong

rama minum tuak
Setelah acara minum-minum, wajah Uppy mulai memerah karena terlalu banyak minum tuak, saya hanya tertawa melihat tingkahnya yang sudah mulai aneh.
Ternyata acara yang kami tunggu-tunggu ada di urutan ketiga, iyah, acara makan-makan. Setelah acara "minuman pembuka", Ibu-ibu gesit dan pengertian itu pun muncul kembali dengan baki besar membawa makanan porsi besar. 
Kami sebenarnya agak kecewa ketika makanan super lezat dengan porsi jumbo ini muncul, karena sebelum berangkat ke acara kawinan ini kami semua sudah makan malam di posko, jadi kami datang ke kondangan dengan mode kenyang. Sebenarnya jika kami tau akan ke acara seperti in kami bakalan tahan lapar dari siang tapi karena memang kebetulan Ibu Desa mengajak kami pas malam hari jadi kami tidak ada persiapan (mengosongkan perut). Jadi sia-sia deh makanan seonggok  besar tersebut. Sayang sekali.
ini untuk satu orang

makan besar

muka-muka menyesal, terutama kk' allu
Setelah mencicipi sedikit makanan, kami kekenyangang berat, kami mulai tidak betah duduk berlama-lama terlebih si uppy yang sudah mulai bermuka aneh. Kami akhirnya berpamitan dengan Pak De dan tuan rumah untuk pulang duluan, kami menjadikan uppy yang sedang mabuk berat sebagai alasan kami untuk pulang cepat. Kami tidak sempat mengikuti acara selanjutnya, sebenarnya agak tidak enak juga sih, tapi kami juga sudah tidak tahan duduk dengan perut kembung. 
Terima kasih tuan rumah, terima kasih pengantin, terima kasih Ibu-ibu yang memasak makanan yang sungguh nikmat, terima kasih bagi yang menyediakan tuak dan membuat teman saya mabuk kepayang, terima kasih warga Desa Pattiroang.
mempelai pria

mempelai pria juga
Sekian,
Wassalam

0 komentar :