Selasa, 28 Maret 2017

Pentalogi KKN - Pra KKN





Beberapa bulan yang lalu saya melaksanakan kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN), KKN ini wajib dilaksanakan bagi semua mahasiswa yang betul-betul berniat jadi Sarjana. Ada sejuta cerita ketika saya ber-KKN, tapi hanya beberapa yang akan saya ceritakan di Blog ini, yang penting-penting dan seru saja. Semoga menginspirasi bagi pembaca (kalau ada).


--------------------

Menurut internet, Desa pattiroang adalah desa yang terletak di kecamatan Kajang kabupaten Bulukumba, desa yang berbatasan langsung dengan desa Tanah towa dan tak lebih dari 5 kilometer dari kawasan Amma Toa , daerah paling kental adat budaya di daerah Kajang, Bulukumba. Dimana disanalah bertempat tinggal Bohe’ pemimpin adat tertinggi dalam budaya masyarakat Kajang.

Desa dengan aroma mistis yang cukup kuat dengan nuansa hitam-hitamnya, dikelilingi hutan dengan pohon-pohon besar Yang menjulang tinggi hingga berpuluh-puluh meter panjangnya, tak heran desa ini terasa begitu sejuk bahkan di siang hari karena oksigen yang melimpah ruah, bandingkan dengan kota Makassar. Aah sudahlah...
Disana saya akan berjuang selama 40 hari lamanya mencari jati diri dan terjun langsung ke masyarakat memberi ilmu dan segala sesuatu yang saya telah pelajari di kampus, menjadi pengabdi dan pengayom masyarakat yang akan selalu menjadi contoh dan teladan bagi masyarakat, tapi mungkin hanya “kemungkinan” ...
--------------------------
Seharusnya yang mencolok dari kegiatan  KKN ini adalah tempat dimana saya ber-KKN karena kajang adalah daerah yang sangat  terkenal adat dan budayanya,  tapi malah ada faktor lain yang menjadi sorotan utama dan sempat beberapa saat menjadi trending topik di lingkungan UMI saat itu. Dengan headline “Semua Cowok” kami merasa dikhianati oleh keberuntungan , merasa terpinggirkan dan seperti menjadi anak tiri dalam kegiatan KKN ini. Ah lebay.
Yap,,, masuk dalam anggota posko yang satu-satunya posko dari seluruh posko yang tersebar di 3 Kabupaten yakni Kabupaten Bantaeng,Jeneponto dan Bulukumba yang “tidak ada wanita” nya. Kenapa saya beri tanda kutip untuk kalimat “tidak ada wanita”? saya pikir itu bukan sebuah hal yang perlu dipertanyakan, tetapi justru pertanyaan sebenarnya adalah kenapa “tidak ada wanita” di posko saya?
Dimana seninya KKN tanpa wanita, tidak ada penyemangat, bagai sayur tanpa garam, bagai gorengan tampa lombok hijau, bagai mie tanpa bumbu, bagai rokok tanpa korek.
Muncul pikiran ngawur dalam benak saya, apakah disana darahnya super duper texas sehingga wanita tidak dianjurkan kesana, mungkinkah orang-orang di posko ku kebetulan adalah sekumpulan orang-orang sial, ataukah disana sudah ada bunga desa yang menantikan kehadiran kami sehingga tidak perlu ada wanita yang di ikutkan dalam posko kami. Mungkin jawaban kedualah yang lebih terdengar realistis, terserahlah toh saya juga sudah pasrah dengan semuanya.
Mungkin yang saya sesalkan hanya satu,KKN itu cuma terjadi sekali dalam seumur hidup saya dan tidakkah pihak berwenang diatas sana memperhatikan dengan betul-betul pembagian anggota posko ini, tidak kah mereka mencermati sudah adilkan penyusunan anggota setiap poskonya, tidakkah mereka ini, tidakkah mereka itu. Halaaah, percuma.
 .
----------------------------
Beberapa hari sebelum berangkat KKN, kampus mengadakan acara pelepasan mahasiwa yang dihadiri oleh Bunda Rektor Universitas Muslim Indonesia, Ibu Masrurah Muhtar (lupa titelnya apa) dan Pangdam VII Wirabuana. Ada seribuan lebih mahasiswa yang terlibat dalam kegiatan KKN ini, saya salah satu diantaranya. UMI bekerjasama dengan Kodam VII Wirabuana bekerjasama melaksanakan kegiatan KKN kali ini, setidaknya itu yang ingin dijelaskan oleh spanduk yang ada di depan gedung Al-Jibra, auditorum kampus.
Di pengumuman dikatakan acara pelepasan dimulai pukul 08.00 dan saya datang pada pukul 09.12 , apakah saya terlambat?? Tentu tidak , dan apakah saya heran kenapa saya tidak terlambat?? Sudah pasti tidak, karena mungkin sudah jadi rahasia umum jika perbedaan waktu antara yang tertulis di kertas dengan realita itu berkisar 2 jam (korban OTW) ,seperti selang waktu antara sabang dengan merauke.
Di dalam Auditorium sudah banyak mahasiswa yang berkumpul, ada yang duduk ,ada yang berdiri,ada yang cerita,ada yang berdiam diri saja, seperti biasa semua terlihat standar seperti pada umumnya dan tidak ada yang menarik perhatian terkecuali suara kakak-kakak berpakaian dinas diatas panggung yang sedikit mencairkan suasana ruangan yang tak mengenakkan bagiku dan telingaku.
Setelah itu acara pelepasanpun dimulai, setelah melewatkan beberapa jam lamanya, akhirnya tiba saatnya mahasiswa dikumpulkan berdasarkan kecamatan untuk dibagi setiap poskonnya, sesuatu yang sudah sangat ditunggu-tungu oleh mahasiswa. *sayangnya saya tidak punta foto-foto pas acaranya, lupa motret .
Apakah teman poskonya cantik?
Apakah teman poskonya ganteng?
Apakah ada yang dari fakultas kedokteran?
Mungkin pertanyaan itulah yang mengelelilingi kepala mahasiswa-mahasiswi saat itu , kecuali saya tentunya.
Dengan langkah gontai tanpa semangat saya menuju ruang belakang tempat biasa saya melihat senior mengeluarkan keringat dingin dan lidah yang kaku tak mampu menjawab pertanyaan para penguji, disana katanya KKN dareah Kecamatan Kajang Kabupaten Bulukumba dikumpulkan.
Setelah Supervisi puas mengeluarkan uneg-unegnya , kami di pisah ke setiap posko.
Posko Desa pattiroang Kecamatan Kajang Kabupaten Bulukumba terdiri dari
Ahmad Asbar (Asbar),
Nurfauzan (fauzan),
Erwin Yusuf (Ewin),
Abdurrahman (Rama),
Muh Rasyid Ridha (Acil),
Firman Taufik (upi’), dan
Asrihullah Upara (kk’ Allu’).
Dibandingkan dengan mahasiswa se-posko, kami mungkin lebih cocok jadi boyband.
Panas ditelinga mendengar tawa teman yg berteriak “semua batangan”, tapi itu tidak masalah karena kami yakin bunga desa Pattiroang sudah menantikan kami, pikirku menghibur diri.
Setelah semua tahap-tahap dilalui saya pulang ke kamar kost merenung, iri,sedih,marah,kecewa,putus asa,hampa,kesal,sebal bercampur jadi satu lalu terkalahkan oleh rasa pasrah. Bahkan terlintas sejenak untuk membatalkan saja KKN ini dan menunggu tahun depan saja, dan tiba-tiba terlintas dengan cepat pula bayangan wajah orang tua yang terus menanyakan kapan saya mengenakan mahkota hitam bertali , suasana tiba-tiba menjadi buram.
Sekian,
Wassalam

0 komentar :