Beberapa bulan yang lalu saya melaksanakan kegiatan Kuliah Kerja Nyata
(KKN), KKN ini wajib dilaksanakan bagi semua mahasiswa yang betul-betul
berniat jadi Sarjana. Ada sejuta cerita ketika saya ber-KKN, tapi hanya
beberapa yang akan saya ceritakan di Blog ini, yang penting-penting dan
seru saja. Semoga menginspirasi bagi pembaca (kalau ada).
--------------------
Menurut internet, Desa pattiroang adalah desa yang terletak di kecamatan Kajang kabupaten Bulukumba, desa yang berbatasan langsung dengan desa Tanah towa dan tak lebih dari 5 kilometer dari kawasan Amma Toa , daerah paling kental adat budaya di daerah Kajang, Bulukumba. Dimana disanalah bertempat tinggal Bohe’ pemimpin adat tertinggi dalam budaya masyarakat Kajang.
Desa dengan aroma
mistis yang cukup kuat dengan nuansa hitam-hitamnya, dikelilingi hutan
dengan pohon-pohon besar Yang menjulang tinggi hingga berpuluh-puluh
meter panjangnya, tak heran desa ini terasa begitu sejuk bahkan di siang
hari karena oksigen yang melimpah ruah, bandingkan dengan kota
Makassar. Aah sudahlah...
Disana saya akan
berjuang selama 40 hari lamanya mencari jati diri dan terjun langsung ke
masyarakat memberi ilmu dan segala sesuatu yang saya telah pelajari di
kampus, menjadi pengabdi dan pengayom masyarakat yang akan selalu
menjadi contoh dan teladan bagi masyarakat, tapi mungkin hanya
“kemungkinan” ...
--------------------------
Seharusnya yang mencolok dari kegiatan KKN ini adalah tempat dimana
saya ber-KKN karena kajang adalah daerah yang sangat terkenal adat dan
budayanya, tapi malah ada faktor lain yang menjadi sorotan utama dan
sempat beberapa saat menjadi trending topik di lingkungan UMI saat itu.
Dengan headline “Semua Cowok” kami merasa dikhianati oleh keberuntungan ,
merasa terpinggirkan dan seperti menjadi anak tiri dalam kegiatan KKN
ini. Ah lebay.
Yap,,, masuk dalam anggota posko yang
satu-satunya posko dari seluruh posko yang tersebar di 3 Kabupaten yakni Kabupaten
Bantaeng,Jeneponto dan Bulukumba yang “tidak ada wanita” nya. Kenapa
saya beri tanda kutip untuk kalimat “tidak ada wanita”? saya pikir itu
bukan sebuah hal yang perlu dipertanyakan, tetapi justru pertanyaan
sebenarnya adalah kenapa “tidak ada wanita” di posko saya?
Dimana
seninya KKN tanpa wanita, tidak ada penyemangat, bagai sayur tanpa
garam, bagai gorengan tampa lombok hijau, bagai mie tanpa bumbu, bagai
rokok tanpa korek.
Muncul pikiran ngawur
dalam benak saya, apakah disana darahnya super duper texas sehingga
wanita tidak dianjurkan kesana, mungkinkah orang-orang di posko ku
kebetulan adalah sekumpulan orang-orang sial, ataukah disana sudah ada
bunga desa yang menantikan kehadiran kami sehingga tidak perlu ada
wanita yang di ikutkan dalam posko kami. Mungkin jawaban kedualah yang
lebih terdengar realistis, terserahlah toh saya juga sudah pasrah dengan
semuanya.
Mungkin yang saya sesalkan hanya
satu,KKN itu cuma terjadi sekali dalam seumur hidup saya dan tidakkah
pihak berwenang diatas sana memperhatikan dengan betul-betul pembagian
anggota posko ini, tidak kah mereka mencermati sudah adilkan penyusunan
anggota setiap poskonya, tidakkah mereka ini, tidakkah mereka itu. Halaaah, percuma.
.
----------------------------
Beberapa hari sebelum berangkat KKN, kampus mengadakan acara pelepasan
mahasiwa yang
dihadiri oleh Bunda Rektor Universitas Muslim Indonesia, Ibu Masrurah
Muhtar (lupa titelnya apa) dan Pangdam VII Wirabuana. Ada seribuan lebih
mahasiswa yang terlibat dalam kegiatan KKN ini, saya salah satu
diantaranya. UMI bekerjasama dengan Kodam VII Wirabuana bekerjasama
melaksanakan kegiatan KKN kali ini, setidaknya itu yang ingin dijelaskan
oleh
spanduk yang ada di depan gedung Al-Jibra, auditorum kampus.
Di pengumuman dikatakan acara pelepasan dimulai pukul 08.00 dan saya
datang pada pukul 09.12 , apakah saya terlambat?? Tentu tidak , dan
apakah saya heran kenapa saya tidak terlambat?? Sudah pasti tidak,
karena mungkin sudah jadi rahasia umum jika perbedaan waktu antara yang
tertulis di kertas dengan realita itu berkisar 2 jam (korban OTW) ,seperti selang
waktu antara sabang dengan merauke.
Di dalam
Auditorium sudah banyak mahasiswa yang berkumpul, ada yang duduk ,ada
yang berdiri,ada yang cerita,ada yang berdiam diri saja, seperti biasa
semua terlihat standar seperti pada umumnya dan tidak ada yang menarik
perhatian terkecuali suara kakak-kakak berpakaian dinas diatas panggung
yang sedikit mencairkan suasana ruangan yang tak mengenakkan bagiku dan
telingaku.
Setelah itu acara pelepasanpun dimulai, setelah melewatkan
beberapa jam lamanya, akhirnya tiba saatnya mahasiswa dikumpulkan
berdasarkan kecamatan untuk dibagi setiap poskonnya, sesuatu yang sudah
sangat ditunggu-tungu oleh mahasiswa. *sayangnya saya tidak punta foto-foto pas acaranya, lupa motret .
Apakah teman poskonya cantik?
Apakah teman poskonya ganteng?
Apakah ada yang dari fakultas kedokteran?
Mungkin pertanyaan itulah yang mengelelilingi kepala mahasiswa-mahasiswi saat itu , kecuali saya tentunya.
Dengan
langkah gontai tanpa semangat saya menuju ruang belakang tempat biasa
saya melihat senior mengeluarkan keringat dingin dan lidah yang kaku tak
mampu menjawab pertanyaan para penguji, disana katanya KKN dareah
Kecamatan Kajang Kabupaten Bulukumba dikumpulkan.
Setelah Supervisi puas mengeluarkan uneg-unegnya , kami di pisah ke setiap posko.
Posko Desa pattiroang Kecamatan Kajang Kabupaten Bulukumba terdiri dari
Ahmad Asbar (Asbar),
Nurfauzan (fauzan),
Erwin Yusuf (Ewin),
Abdurrahman (Rama),
Muh Rasyid Ridha (Acil),
Firman Taufik (upi’), dan
Asrihullah Upara (kk’ Allu’).
Dibandingkan dengan mahasiswa se-posko, kami mungkin lebih cocok jadi boyband.
Panas
ditelinga mendengar tawa teman yg berteriak “semua batangan”, tapi itu
tidak masalah karena kami yakin bunga desa Pattiroang sudah menantikan
kami, pikirku menghibur diri.
Setelah semua
tahap-tahap dilalui saya pulang ke kamar kost merenung,
iri,sedih,marah,kecewa,putus asa,hampa,kesal,sebal bercampur jadi satu
lalu terkalahkan oleh rasa pasrah. Bahkan terlintas sejenak untuk
membatalkan saja KKN ini dan menunggu tahun depan saja, dan tiba-tiba
terlintas dengan cepat pula bayangan wajah orang tua yang terus
menanyakan kapan saya mengenakan mahkota hitam bertali , suasana
tiba-tiba menjadi buram.
Sekian,

0 komentar :
Posting Komentar