Selasa, 28 Maret 2017

Pentalogi KKN - Minggu III





KKN #4 (Minggu Ketiga)


Di minggu ketiga, barulah kami melakukan suatu hal yang "berguna" bagi masyarakat, karena  di minggu ketigalah kami melaksanakan visi-misi kami secara rutin. Sebenarnya kami mulai melakukannya di minggu kedua tapi belum maksimal, masih lebih banyak makan tidur dibanding kerjanya.
Meskipun saat acara seminar kecamatan beberapa waktu lalu, Supervisi KKN dan koordinator Kecamatan menekankan bahwa program kerja untuk fisik dan non-fisik harus lebih banyak non-fisiknya, tetapi kami agak kesulitan dengan keputusan tersebut. Dalam posko kami, enam orang dari Fakultas yang sama yakni Teknik Informatika, dan hanya kk' Allu seorang yang berasal dari Fakultas berbeda yakni Teknik Pertambangan, otomatis hanya ada dua bidang ilmu yang betul0betul dikuasai, bagaimana caranya program non-fisik berjalan lancar kalau begitu.
Makanya kegiatan yang kami lakukan lebih cenderung ke kegiatan fisik karena hanya tenaga yang kami punya, ilmu sangat terbatas. Bukannya bodoh yaa hanya jenis ilmunya terbatas. Bahkan suatu ketika di hari jumat kami diberi amanah untuk mebawakan khutbah di Masjid, terpaksa kami merancang seribu alasan sejak subuh, bagaimana caranya agar bisa menolak tanpa mengecewakan masyarakat dan Pak Imam tentunya, tentu kami tak ingin sok tahu dan ngasal, jika ilmu kita belum sampai, dosanya sangat besar dan bisa mengarahkan umat ke jalan yang sama.
Adapun kegiatan yang kami lakukan di minggu ketiga ini meliputi kegiaatan fisik yakni:

Memperbaiki infrastruktur desa, (Kantor Desa dan Atribut-atribut di dalamnya). Saat pertama kali datang ke kantor Desa Pattiroang, keadaannya begitu memprihatinkan, dindingnya kusam, tamannya rusak, sepertinya telah di  acak-acak oleh binatang ternak, atribut seperti daftar nama staff Desa, Peta Desa dan sebagainya sudah dimakan rayap, dan banyak lagi yang perlu pembenahan. Untuk itu prioritas utama kami adalah membenahi kantor Desa, mengingan bangunan ini sangat vital peranannya. Di tempat inilah selain menjadi tempat berkantor aparat pemerintah desa, banyak kegiatan seperti seminar, penyuluhan, rapat dan banyak kegiatan produktif lainnya dilaksanakan. Selain kantor Desa, Masjid dan patok perbatasan Desa juga kami beri sedikit perbaikan.
Penampakan kantor desa

acil mengecat

rama mengecat

mbah uppy mengecat, semua mengecat
Di segi non-fisik, kegiatan yang kami lakukan adalah mengajar secara rutin di SD 282 Desa pattiroang. Ketika pertama kali masuk mengajar kami merasa sangat prihatin dengan keadaan sekolah tersebut, keadaannya sangat tertinggal. 
Teras kelas penuh lumpur bekas sepatu siswa yang lalu lalang, maklum saja pekarangan sekolah belum disemen jadi ketika hujan datang tanah di pekarangan tersebut menjadi becek dan melekat di alas sepatu siswa-siswi. 
Selain itu WC di sekolah ini juga tidak terawat, Jambannya retak, kolam bocor dan kering. Suatu saat Acil hendak buang air kecil, terpaksa harus meminjam WC penduduk di samping sekolah tersebut.
Kualitas Pendidikan di Sekolah ini juga sepertinya masih dibawah standar, bayangkan saja kami mendapati di Kelas lima dan Kelas enam masih ada beberpa murid yang belum bisa membaca. Kok bisa naik kelas padahal belum bisa membaca.
Hal unik lain yang kami temui di Sekolah tersebut adalalah guru-guru yang mengajar di Sekolah tersebut semua berasal dari luar, satu-satunya penduduk Asli yang mengajar disitu adalah sang Kepala Sekolah, Bapak Saking namanya. Kami tau informasi tersebut dari pak Saking sendiri ketika kami berkunjung ke rumahnya untuk memperbaiki printer dan laptopnya.
acil serius mengajar

siswa kelas 5

rama mengajar murid

yang moto ini gobl*k banget, muka saya tidak diambil sebagian

lagi-lagi saya membelakangi kamera

rama membimbing khusus murid yang belum tau membaca
Tapi dibalik semua itu, kami sangat bangga akan semangat belajar anak-anak tersebut. Mereka sangat giat dan bersemangat belajar, bahkan mereka menolak untuk keluar ketika jam istirahat dan lebih memilih untuk belajar bersama kami. Pun ketika jam pelajaran selesai, mereka meminta waktu tambahan untuk tetap diajari oleh kami, padahal kami hanya mengajari mereka tentang bidang ilmu yang kami kuasai, yakni pelajaran komputer, sesuatu yang masih tabu bagi mereka, yang kebanyakan bahkan mesin ketik pun mereka belum pernah lihat.
Selain mengajar di Sekolah Dasar, kami juga memberi penyuluhan di Sekolah Menengah Atas. Kami memberi penyuluhan tentang internet, karena materi yang kami punya tidak jauh dari hal-hal berbau teknologi dan kebetulan disini masih bisa dibilang tertinggal masalah teknologi. Bahkan ketika Acil bertanya kepada siswa apa itu internet, mereka hanya menjawab, google dan facebook, mereka tidak mengenal friendster, MSN, e-buddy, dll. Jiaah. Bahkan ketika ditanya apa itu android, tidak ada seorang pun yang tahu, padahal hape mereka sebagiab besar sistem operasinya adalah android.

foto proses penyuluhan

fauzan mengatur slide materi penyuluhan
Namun kali ini penyuluhan bukan di lakukan di Desa kami, berhubung satu-satunya Institusi Pendidikan di Desa Kami hanya satu buah Sekolah Dasar, jadi kami memberi penyuluhan di sekolah Desa tetangga, toh sebagian besar siswa di Sekolah tersebut adalah warga Desa kami. 
Sekian,
Terima Kasih

0 komentar :