KKN #4 (Minggu Ketiga)
Di minggu ketiga, barulah kami melakukan suatu hal yang "berguna" bagi
masyarakat, karena di minggu ketigalah kami melaksanakan visi-misi kami
secara rutin. Sebenarnya kami mulai melakukannya di minggu kedua tapi
belum maksimal, masih lebih banyak makan tidur dibanding kerjanya.
Meskipun saat acara seminar kecamatan beberapa waktu lalu, Supervisi KKN
dan koordinator Kecamatan menekankan bahwa program kerja untuk fisik
dan non-fisik harus lebih banyak non-fisiknya, tetapi kami agak
kesulitan dengan keputusan tersebut. Dalam posko kami, enam orang dari
Fakultas yang sama yakni Teknik Informatika, dan hanya kk' Allu seorang
yang berasal dari Fakultas berbeda yakni Teknik Pertambangan, otomatis
hanya ada dua bidang ilmu yang betul0betul dikuasai, bagaimana caranya
program non-fisik berjalan lancar kalau begitu.
Makanya kegiatan yang kami lakukan lebih cenderung ke kegiatan fisik
karena hanya tenaga yang kami punya, ilmu sangat terbatas. Bukannya
bodoh yaa hanya jenis ilmunya terbatas. Bahkan suatu ketika di hari
jumat kami diberi amanah untuk mebawakan khutbah di Masjid, terpaksa
kami merancang seribu alasan sejak subuh, bagaimana caranya agar bisa
menolak tanpa mengecewakan masyarakat dan Pak Imam tentunya, tentu kami
tak ingin sok tahu dan ngasal, jika ilmu kita belum sampai, dosanya
sangat besar dan bisa mengarahkan umat ke jalan yang sama.
Adapun kegiatan yang kami lakukan di minggu ketiga ini meliputi kegiaatan fisik yakni:
Memperbaiki infrastruktur desa, (Kantor Desa dan Atribut-atribut di
dalamnya). Saat pertama kali datang ke kantor Desa Pattiroang,
keadaannya begitu memprihatinkan, dindingnya kusam, tamannya rusak,
sepertinya telah di acak-acak oleh binatang ternak, atribut seperti
daftar nama staff Desa, Peta Desa dan sebagainya sudah dimakan rayap,
dan banyak lagi yang perlu pembenahan. Untuk itu prioritas utama kami
adalah membenahi kantor Desa, mengingan bangunan ini sangat vital
peranannya. Di tempat inilah selain menjadi tempat berkantor aparat
pemerintah desa, banyak kegiatan seperti seminar, penyuluhan, rapat dan
banyak kegiatan produktif lainnya dilaksanakan. Selain kantor Desa,
Masjid dan patok perbatasan Desa juga kami beri sedikit perbaikan.
![]() |
| Penampakan kantor desa |
![]() |
| acil mengecat |
![]() |
| rama mengecat |
![]() |
| mbah uppy mengecat, semua mengecat |
Di segi non-fisik, kegiatan yang kami lakukan adalah mengajar secara
rutin di SD 282 Desa pattiroang. Ketika pertama kali masuk mengajar kami
merasa sangat prihatin dengan keadaan sekolah tersebut, keadaannya
sangat tertinggal.
Teras kelas penuh lumpur bekas sepatu siswa yang lalu lalang, maklum
saja pekarangan sekolah belum disemen jadi ketika hujan datang tanah di
pekarangan tersebut menjadi becek dan melekat di alas sepatu
siswa-siswi.
Selain itu WC di sekolah ini juga tidak terawat, Jambannya retak, kolam
bocor dan kering. Suatu saat Acil hendak buang air kecil, terpaksa harus
meminjam WC penduduk di samping sekolah tersebut.
Kualitas Pendidikan di Sekolah ini juga sepertinya masih dibawah
standar, bayangkan saja kami mendapati di Kelas lima dan Kelas enam
masih ada beberpa murid yang belum bisa membaca. Kok bisa naik kelas
padahal belum bisa membaca.
Hal unik lain yang kami temui di Sekolah tersebut adalalah guru-guru
yang mengajar di Sekolah tersebut semua berasal dari luar, satu-satunya
penduduk Asli yang mengajar disitu adalah sang Kepala Sekolah, Bapak
Saking namanya. Kami tau informasi tersebut dari pak Saking sendiri
ketika kami berkunjung ke rumahnya untuk memperbaiki printer dan
laptopnya.
![]() |
| acil serius mengajar |
![]() |
| siswa kelas 5 |
![]() |
| rama mengajar murid |
![]() |
| yang moto ini gobl*k banget, muka saya tidak diambil sebagian |
![]() |
| lagi-lagi saya membelakangi kamera |
![]() |
| rama membimbing khusus murid yang belum tau membaca |
Tapi dibalik semua itu, kami sangat bangga akan semangat belajar
anak-anak tersebut. Mereka sangat giat dan bersemangat belajar, bahkan
mereka menolak untuk keluar ketika jam istirahat dan lebih memilih untuk
belajar bersama kami. Pun ketika jam pelajaran selesai, mereka meminta
waktu tambahan untuk tetap diajari oleh kami, padahal kami hanya
mengajari mereka tentang bidang ilmu yang kami kuasai, yakni pelajaran
komputer, sesuatu yang masih tabu bagi mereka, yang kebanyakan bahkan
mesin ketik pun mereka belum pernah lihat.
Selain mengajar di Sekolah Dasar, kami juga memberi penyuluhan di
Sekolah Menengah Atas. Kami memberi penyuluhan tentang internet, karena
materi yang kami punya tidak jauh dari hal-hal berbau teknologi dan
kebetulan disini masih bisa dibilang tertinggal masalah teknologi.
Bahkan ketika Acil bertanya kepada siswa apa itu internet, mereka hanya
menjawab, google dan facebook, mereka tidak mengenal friendster, MSN,
e-buddy, dll. Jiaah. Bahkan ketika ditanya apa itu android, tidak ada
seorang pun yang tahu, padahal hape mereka sebagiab besar sistem
operasinya adalah android.
![]() |
| foto proses penyuluhan |
![]() |
| fauzan mengatur slide materi penyuluhan |
Namun kali ini penyuluhan bukan di lakukan di Desa kami, berhubung
satu-satunya Institusi Pendidikan di Desa Kami hanya satu buah Sekolah
Dasar, jadi kami memberi penyuluhan di sekolah Desa tetangga, toh
sebagian besar siswa di Sekolah tersebut adalah warga Desa kami.
Sekian,
Terima Kasih













0 komentar :
Posting Komentar